Benarkah Kritik ke Israel Harus Didampingi Kritik ke Rusia?

Apakah Kritik terhadap Israel Harus Diiringi Kritik terhadap Rusia dan China? Ini Penjelasan Logisnya

Setiap kali publik internasional atau warga sipil bersuara mengecam tindakan brutal pemerintah Israel terhadap Gaza, selalu muncul suara yang mengingatkan: “Lho, Rusia juga menjajah Ukraina!” atau “Bagaimana dengan Uyghur di China?” Biasanya muncul dalam nada menggugah atau menyindir, seolah menyiratkan bahwa mengecam Israel saja tidak cukup—harus adil, dan semua pelanggaran HAM harus dikecam bersamaan.

Pertanyaannya: apakah wajar jika kita hanya fokus pada Gaza saat ini, tanpa harus langsung menyebut Ukraina dan Uyghur? Atau justru itu bentuk standar ganda?

Artikel ini akan membahas secara tuntas, dari sudut pandang etika advokasi, logika komunikasi publik, dan praktik politik internasional.

kritik terhadap Israel
kritik terhadap Israel

1. Kritik terhadap Israel dan Munculnya “Whataboutism”

Fenomena yang sering muncul dalam diskusi seputar konflik Gaza adalah whataboutism, yaitu teknik debat yang mengalihkan isu dengan menyebutkan kasus lain, misalnya:

“Kalau kamu marah ke Israel, kenapa diam saja soal Uyghur?”

Ini adalah retorika umum dalam debat publik dan sering kali muncul bukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Uyghur atau Ukraina, tapi sebagai tameng untuk meredam kecaman terhadap Israel.

Konsep ini awalnya muncul dari propaganda Soviet yang sering menjawab kritik Barat dengan berkata, “What about your racism and poverty?” Sejak itu, whataboutism dikenal sebagai salah satu bentuk penyesatan logika (logical fallacy).


2. Mengapa Banyak Orang Fokus pada Gaza?

Ada beberapa alasan mengapa banyak pihak, termasuk masyarakat dunia dan lembaga kemanusiaan, saat ini lebih vokal terhadap Gaza dibandingkan konflik lain yang juga penting:

a. Kejadian Masih Berlangsung

Penyerangan terhadap warga Gaza terjadi secara langsung dan terus-menerus, sehingga reaksi cepat sangat dibutuhkan. Ketika suatu tragedi masih berlangsung, wajar jika reaksi publik tertuju pada kasus tersebut.

b. Tingkat Kekejaman dan Jumlah Korban

Dalam waktu singkat, ribuan warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Tidak ada jalur evakuasi aman, listrik dan bantuan medis diputus, serta rumah sakit dibom. Tingkat pelanggaran HAM-nya sangat mencolok.

c. Ketimpangan Kekuatan

Konflik Gaza bukan perang antara dua kekuatan seimbang. Israel adalah negara kuat dengan teknologi militer canggih, sementara Gaza diblokade dan sebagian besar warganya hidup dalam kemiskinan. Ini menimbulkan ketimpangan yang mencolok, dan perhatian lebih banyak ditujukan pada pihak yang tertindas.

d. Tidak Ada Perlindungan dari Dunia Internasional

Berbeda dengan Ukraina yang didukung NATO atau setidaknya mendapat bantuan besar-besaran dari Barat, rakyat Gaza tidak punya pelindung global. Ini membuat suara dari masyarakat sipil internasional menjadi sangat penting.


3. Skala Prioritas dalam Advokasi Kemanusiaan

Dalam dunia advokasi, fokus bukan berarti mengabaikan isu lain. Sebagaimana dokter UGD akan menolong pasien yang paling parah lukanya lebih dulu, aktivis dan publik juga akan memberi perhatian lebih pada krisis yang paling mendesak dan mematikan saat ini.

Prinsip ini disebut skala prioritas advokasi, yaitu menimbang:

  • Urgensi (kapan kejadian terjadi)

  • Jumlah korban

  • Akses bantuan yang tersedia

  • Potensi publik untuk menyuarakan perubahan

Dalam hal ini, Gaza memenuhi seluruh kriteria tersebut. Jadi, wajar jika aktivis HAM atau publik lebih banyak berbicara tentang Gaza tanpa menyebutkan konflik Uyghur atau Ukraina setiap saat.


4. Apakah Artinya Kita Mengabaikan Ukraina atau Uyghur?

Tentu saja tidak. Mereka yang fokus pada Gaza tidak berarti mendukung penindasan Uyghur atau pemboman Rusia di Ukraina.

Banyak organisasi HAM seperti Amnesty International, Human Rights Watch, hingga PBB sudah mengeluarkan laporan keras terhadap China, Rusia, dan juga Israel. Jadi menyuarakan satu isu bukan berarti mendiamkan yang lain, selama:

  • Kita tetap konsisten secara prinsip

  • Kita tidak membenarkan satu kekerasan hanya karena pelakunya bukan “musuh kita”

Jika ada seseorang yang hanya marah saat Gaza diserang tapi membela tindakan Rusia atau China yang sama-sama represif, barulah itu disebut standar ganda.


5. Kapan Kritik Komparatif Menjadi Bermakna?

Membandingkan Gaza dengan Uyghur atau Ukraina bisa bermakna jika niatnya adalah memperluas kepedulian, bukan untuk menihilkan tragedi tertentu. Misalnya:

✅ “Kalau kamu peduli Gaza, semestinya kamu juga peduli Uyghur. Mari kita perjuangkan semuanya.”

Bukan:

❌ “Kenapa kamu ribut soal Gaza, sementara kamu diam saja soal Uyghur?”

Yang pertama mengajak, yang kedua menyalahkan. Yang satu menguatkan solidaritas, yang lain merusak empati.


6. Bahaya Membelokkan Isu atas Nama Keseimbangan

Dalam praktiknya, banyak pihak menggunakan “keseimbangan” hanya sebagai alasan untuk tidak bertindak.

Misalnya:

  • Media yang enggan memberitakan penderitaan Gaza karena takut dituduh anti-Semit

  • Politikus yang diam saja atas agresi Israel karena menganggap itu “kompleks”

  • Netizen yang mencela semua bentuk dukungan kemanusiaan karena “belum lengkap”

Keseimbangan tidak boleh menjadi pembenaran untuk ketidakpedulian.


7. Mengapa Isu Gaza Sangat Politis?

Perang di Gaza adalah salah satu konflik paling politis di dunia karena:

  • AS dan negara Barat mendukung Israel secara politik dan militer

  • Lobi pro-Israel sangat kuat di berbagai negara, khususnya di media dan parlemen

  • Narasi Islam vs Barat kerap dimasukkan, padahal banyak non-Muslim pun mengecam kekerasan Israel

Inilah sebabnya solidaritas untuk Gaza sering kali lebih kontroversial dan mendapat banyak “serangan balik” dibanding advokasi untuk Ukraina, Uyghur, atau Myanmar.


8. Bagaimana Cara Bersikap Konsisten?

Jika Anda ingin bersuara untuk Gaza dan tetap punya kredibilitas moral, berikut tipsnya:

  • Jangan pernah membenarkan pelanggaran HAM, siapapun pelakunya

  • Jika belum sempat bicara soal Uyghur atau Ukraina, tidak apa-apa, asal tidak menolaknya

  • Jangan terjebak pada perang narasi “mana yang lebih parah” — semua penderitaan adalah nyata

  • Fokus tidak berarti selektif, tetapi strategis dan realistis


9. Penutup: Solidaritas Tak Perlu Dibenturkan

Mengangkat isu Gaza bukan berarti mengabaikan isu Uyghur. Membela Ukraina bukan berarti harus diam terhadap Gaza. Dunia ini terlalu rumit untuk diselesaikan dengan syarat “kamu baru boleh peduli kalau semua kamu sebut”.

Empati tidak perlu syarat.

Jika seseorang sedang menangis karena rumahnya dibom, kamu tidak harus berkata, “Tapi kan orang lain juga pernah dibom.”

Cukup katakan: “Aku dengar. Aku peduli. Mari kita bantu.”


Kesimpulan Utama:

Kritik terhadap Israel yang tidak disertai kritik terhadap Rusia atau China tidak otomatis menjadi standar ganda. Selama dilakukan dengan itikad baik dan berdasarkan urgensi kemanusiaan, memilih fokus pada Gaza saat ini adalah bentuk advokasi yang sah dan penting. Yang salah adalah saat kita menggunakan penderitaan satu pihak untuk membungkam pembelaan terhadap pihak lain.


Sumber gambar: unsplash.com

Leave a Comment