Standar Ganda Barat terhadap Iran dan Israel

Pendahuluan: Dunia yang Tidak Netral

Dalam dunia yang seharusnya menjunjung hukum internasional dan keadilan global, kenyataannya tidak semua negara diperlakukan sama. Ketika konflik meletus antara dua negara, respons komunitas internasional sering kali tidak berdasarkan fakta objektif, melainkan berdasarkan siapa kawan dan siapa lawan. Salah satu contoh paling gamblang adalah bagaimana negara-negara Barat merespons konflik antara Israel dan Iran. Di balik slogan “rule-based international order”, terdapat praktik standar ganda yang semakin mencolok dan memalukan.

Standar ganda Barat terhadap Iran
Standar ganda Barat terhadap Iran

Israel Menyerang, Iran Disalahkan

Sepanjang dua dekade terakhir, Israel telah melakukan sejumlah serangan udara ke wilayah negara-negara lain, termasuk Suriah, Irak, Lebanon, dan bahkan Iran. Banyak dari serangan ini dilakukan dengan alasan bahwa Israel sedang “mengantisipasi ancaman”, biasanya terkait dugaan fasilitas senjata atau kehadiran milisi yang dianggap pro-Iran. Baru-baru ini, Israel menyerang fasilitas nuklir Iran yang diklaim sebagai ancaman potensial, meskipun Iran berulang kali menegaskan bahwa proyek nuklirnya adalah untuk keperluan sipil dan berada di bawah pengawasan IAEA.

Namun, ketika Iran membalas, bahkan secara terbatas dan terukur, dunia Barat—terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa—segera mengecam Iran sebagai provokator dan ancaman terhadap stabilitas kawasan. Hal ini menciptakan kesan bahwa Barat menoleransi agresi Israel, tetapi tidak memberi hak yang sama kepada Iran untuk membela diri.


Prinsip Pembelaan Diri yang Dipilih-pilih

Piagam PBB, khususnya Pasal 51, memberi hak kepada setiap negara untuk membela diri jika mengalami serangan bersenjata. Namun, ketika serangan itu dilakukan oleh Israel, hak ini seolah tidak berlaku bagi korban serangan tersebut. Dalam konflik ini, Iran dipaksa berada dalam posisi sulit: jika membalas, dituduh sebagai agresor; jika diam, dianggap lemah dan tunduk.

Mengapa negara Barat mempermasalahkan hak membela diri ketika dilakukan oleh negara seperti Iran, tetapi mendiamkan tindakan agresi jika dilakukan oleh Israel? Bukankah ini bentuk ketidakadilan yang terang-terangan?


Politik Aliansi di Atas Keadilan

Salah satu alasan utama ketimpangan ini adalah aliansi strategis antara Israel dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Dalam kalkulasi politik internasional, Israel dianggap sebagai sekutu penting di Timur Tengah. Karena itu, apapun tindakan Israel cenderung “dijustifikasi”, bahkan jika jelas-jelas melanggar hukum internasional.

Iran, sebaliknya, berada di sisi yang berseberangan secara geopolitik. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dipandang sebagai negara “pengganggu” kepentingan Barat di kawasan. Meskipun Iran telah menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menjalankan program nuklir di bawah pengawasan IAEA, kecurigaan terus dilanggengkan oleh media dan pejabat Barat bahwa Iran memiliki niat tersembunyi untuk membangun senjata nuklir.


Media dan Framing Opini Publik

Ketimpangan ini diperkuat oleh bagaimana media arus utama di Barat membingkai narasi konflik. Dalam pemberitaan media seperti CNN, BBC, Fox News, atau The Times, Israel sering digambarkan sebagai “negara demokrasi kecil yang dikelilingi musuh” sedangkan Iran ditampilkan sebagai “rezim teokratis ekstrem” yang suka mengancam negara tetangga.

Bahkan ketika Iran menargetkan instalasi militer dalam serangan balasannya, media tetap menyoroti serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” yang “mengguncang stabilitas Timur Tengah”. Tidak ada pembahasan yang seimbang tentang serangan awal oleh Israel yang memicu respons tersebut.


Kasus Pembanding: Ukraina dan Rusia

Ketika Rusia menyerang Ukraina pada 2022, negara-negara Barat segera bersatu mengecam agresi dan mendukung Ukraina secara total. Hak Ukraina untuk membela diri ditegaskan dengan jelas, dan bantuan militer serta ekonomi mengalir tanpa henti.

Mengapa prinsip yang sama tidak berlaku untuk Iran atau Palestina ketika wilayah mereka diserang? Apakah karena mereka bukan sekutu? Apakah karena mereka bukan bagian dari “blok demokratis” versi Barat?


Dampak Standar Ganda bagi Dunia

Ketika dunia internasional memperlihatkan ketidakadilan yang mencolok seperti ini, maka:

  1. Kepercayaan terhadap hukum internasional menurun.

  2. Negara-negara berkembang merasa tidak ada gunanya mematuhi aturan jika aturan hanya ditegakkan secara selektif.

  3. Konflik dan ketegangan meningkat, karena negara yang diserang merasa tidak akan mendapatkan keadilan melalui jalur diplomasi.


Apakah Iran Harus Tunduk dan Diam?

Meminta Iran untuk tidak membalas serangan Israel adalah bentuk pemaksaan yang tidak adil. Dalam situasi apapun, sebuah negara berhak mempertahankan kedaulatan dan keamanannya, termasuk Iran. Jika Iran diserang lebih dulu dan memiliki bukti bahwa serangan tersebut bukan sekadar provokasi, maka membalas secara terukur adalah hal yang sah.

Kritik terhadap tindakan Iran tentu bisa dilakukan jika responsnya berlebihan atau menyasar warga sipil. Tapi menolak sepenuhnya hak Iran untuk membalas, sementara Israel dibiarkan bertindak sesuka hati, adalah bentuk kemunafikan politik global.


Kesimpulan: Dunia Harus Lebih Adil

Keadilan tidak boleh ditentukan oleh kekuatan militer atau kedekatan diplomatik. Jika dunia ingin menciptakan stabilitas yang langgeng, maka semua negara harus diukur dengan standar yang sama, termasuk dalam hal hak membela diri, pelanggaran kedaulatan, dan penggunaan kekuatan.

Standar ganda seperti yang diperlihatkan negara Barat terhadap konflik Israel-Iran tidak hanya melukai rasa keadilan global, tetapi juga menjadi bahan bakar bagi radikalisasi dan permusuhan yang berkepanjangan.

Saatnya dunia internasional berhenti menutup mata terhadap tindakan agresi, siapapun pelakunya.


📚 Referensi dan Sumber (opsional):

  • Piagam PBB Pasal 2(4) dan 51

  • Laporan IAEA tentang program nuklir Iran

  • Resolusi Dewan Keamanan PBB terkait konflik Timur Tengah

  • Arsip media Barat terkait serangan Israel dan respons Iran


 Sumber gambar: unsplash.com

Leave a Comment