Antara Luka dan Luka: Apakah Trauma Holocaust Membenarkan Penjajahan Palestina?

✡️ Luka Besar Sejarah: Holocaust dan Penderitaan Yahudi

Sejarah mencatat bahwa Holocaust adalah salah satu tragedi paling mengerikan dalam peradaban modern. Sekitar enam juta Yahudi dibunuh secara sistematis oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II.
Trauma kolektif ini bukan hanya luka bagi orang Yahudi, tetapi juga luka nurani bagi seluruh kemanusiaan.

Holocaust menciptakan:

  • Ketakutan eksistensial bagi bangsa Yahudi,

  • Dorongan mendirikan negara perlindungan: Israel, di tanah Palestina.

Namun pertanyaan penting muncul:

Apakah penderitaan ini membenarkan pengusiran dan penindasan terhadap bangsa lain?

Trauma Holocaust Palestina
Trauma Holocaust Palestina

🕊️ Palestina: Korban dari Luka yang Bukan Mereka Ciptakan

Rakyat Palestina tidak pernah terlibat dalam Holocaust.
Holocaust terjadi di Eropa, bukan di Timur Tengah. Namun rakyat Palestina-lah yang harus:

  • Kehilangan tanah leluhur,

  • Menjadi pengungsi selama lebih dari 70 tahun,

  • Menjadi korban penjajahan dan blokade berkepanjangan.

Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Yahudi Ilan Pappé:

“Sejarah Israel dibangun dengan cara menghapus sejarah Palestina.”


⚖️ Luka Tidak Membenarkan Kekerasan Baru

Dalam logika kemanusiaan yang adil:

  • Seorang korban tidak otomatis benar jika dia kemudian menjadi pelaku kekerasan.

  • Trauma bukan alasan untuk membungkam kritik, atau untuk menindas pihak lain.

Jika dunia mengutuk Nazi karena Holocaust, maka dunia juga harus tegas mengutuk siapapun yang menindas orang lain, termasuk jika dilakukan oleh negara Yahudi.

Sebagai analogi moral:

Jika seseorang dulu dipukuli di jalan, itu tidak memberi dia hak untuk memukul orang lain hari ini.


🤝 Apakah Iran Tidak Punya Empati?

Iran secara historis dikenal memiliki komunitas Yahudi yang besar dan hidup damai.
Sebelum Revolusi 1979, banyak Yahudi tinggal aman di Iran. Bahkan saat ini, Iran memiliki populasi Yahudi terbesar di Timur Tengah setelah Israel.

Artinya, kritik Iran terhadap Israel bukan karena kebencian pada Yahudi, melainkan penolakan terhadap penjajahan dan pelanggaran HAM.


🌍 Dunia Harus Kembali ke Prinsip Moral Universal

Persoalan besar saat ini bukan sekadar siapa yang “lebih menderita”, tetapi:

Siapa yang sedang menindas dan siapa yang tertindas hari ini?

  • Dunia tidak boleh membiarkan trauma Holocaust digunakan sebagai pelindung moral palsu bagi Israel.

  • Kita harus bisa berkata: “Kami menghormati penderitaan kalian di masa lalu, tapi kalian tidak boleh menindas orang lain sekarang.”


📌 Kesimpulan

Apakah trauma Holocaust membenarkan pendudukan Palestina?

➡️ Tidak.

  • Trauma masa lalu tidak memberi izin moral untuk menciptakan luka baru.

  • Palestina adalah korban dari konflik yang bukan mereka mulai.

  • Dunia harus adil, bukan sentimental.

  • Dukungan pada korban Holocaust tidak boleh menghalangi empati pada rakyat Palestina hari ini.


✍️ Penutup Reflektif

Penderitaan Yahudi selama Holocaust seharusnya menjadikan kita lebih sensitif terhadap penderitaan siapa pun, termasuk rakyat Palestina.
Memuliakan kenangan Holocaust artinya berdiri melawan semua bentuk kekejaman, tanpa pengecualian.

Jika kita benar-benar ingin dunia damai, maka keadilan harus berlaku merata — tidak hanya untuk yang pernah disakiti, tapi juga untuk mereka yang kini sedang disakiti.


Sumber gambar: unsplash.com

Leave a Comment